Bapak Pendidikan Nasional Indonesia
Lahir dari lingkungan bangsawan Kadipaten Pakualaman, sehingga sejak kecil berkesempatan mengenyam pendidikan formal — kesempatan yang saat itu tertutup bagi sebagian besar rakyat pribumi. Kedekatannya dengan rakyat jelata menumbuhkan kepeduliannya pada ketimpangan akses pendidikan zaman kolonial.
Menempuh ELS (sekolah dasar Belanda), lalu melanjutkan ke STOVIA (sekolah dokter Bumiputera) namun tak selesai karena sakit. Ia beralih aktif di dunia jurnalistik dan pergerakan nasional.
Bersama Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo (Tiga Serangkai) mendirikan Indische Partij. Tulisan kritisnya, "Als ik een Nederlander was" (Andaikan Aku Seorang Belanda), membuatnya diasingkan ke Belanda 1913–1919.
Sekembalinya ke tanah air dengan bekal Europese Akte (akta guru), pada 3 Juli 1922 ia mendirikan Perguruan Taman Siswa di Yogyakarta — sekolah bagi rakyat pribumi, dilandasi filosofi pendidikan yang membebaskan.
Dipercaya sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan pertama Republik Indonesia, meletakkan dasar sistem pendidikan nasional yang merdeka.
Hari lahirnya, 2 Mei, ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ia dianugerahi gelar Pahlawan Pergerakan Nasional atas jasa-jasanya di bidang pendidikan.
Ki Hajar Dewantara membuktikan bahwa pendidikan adalah hak seluruh rakyat, bukan hak istimewa golongan bangsawan atau penjajah. Keteguhannya melawan diskriminasi pendidikan kolonial melahirkan Taman Siswa dan meletakkan fondasi sistem pendidikan nasional yang menghargai kemerdekaan berpikir setiap murid.
Keberanian menyuarakan keadilan lewat tulisan, meski berisiko besar bagi dirinya.
Kepedulian nyata terhadap pendidikan rakyat kecil yang selama itu terpinggirkan.
Kegigihan berjuang meski pernah diasingkan jauh dari tanah air.
Filosofi kepemimpinan yang membimbing, bukan mendikte: memberi teladan, semangat, dan dorongan dari belakang.